May 08, 2005

TABAH SEORANG IBU...

Salam...



Pernah di suatu ketika dulu, di suatu petang, ibu pulang dengan tapak kaki berdarah. "Tertusuk kayu," katanya. Setelah ke kebun, berladang sejak pagi, wanita yang kasihnya tak ternilai itu pulang dengan sedikit keluhan, "Ahh..Tidak apa-apa, cuma luka kecil " terang ibu tetap tersenyum.

Ayah seperti biasa, musim menuai telah tiba. InsyaAllah setiap hujung minggu ia akan menjenguk kami lima beranak yg di tinggalkan. kami faham sangat ayah ke sawah bergubuk di tepi sawah untuk beberapa hari bagi memastikan proses penuaian padi berjalan lancar.

Begitulah kami, empat beradik. Selepas Asar kami berempat menunggu setia kepulangan ibu di tangga rumah. Si abang bertindak sebagai pilot dengan kuasa veto yg tiada siapa boleh ingkar perintah sepanjang ketiadaan ayah buat sementara waktu...

Kadang-kadang, kami tertanya-tanya di dalam hati, 'Penatkah ibu?'

Biasanya adik-adik berebut untuk menjadi tukang picit ibu, di kepala, di kaki, tangan dan badan habis di gomol. Ibu tersenyum sambil menggosok-gosok kepala mereka. Tidak lama selepas itu, bukannya ibu yang tertidur, tetapi kami yang terlelap satu persatu terbuai indahnya nasihat seorang ibu.

Tengah malam terbangun, melihat ibu masih duduk bersimpuh di sejadahnya. Ia menangis sambil menyebut nama kami satu persatu agar Allah membimbing dan menjaga kami hingga menjadi orang yang sentiasa membuat ibu tersenyum bangga kerana pernah bersakit melahirkan kami. Termangu sekejap untuk kemudian terlelap kembali hingga menjelang subuh ibu membangunkan kami.

Menjelang subuh wanita yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah itu menyiapkan kami serta sarapan pagi untuk bekal kesekolah. Sabar melayani kerenah kami. Tak pernah kami lihat ia mengeluh walau menitis peluhnya. Satu tanyaku di kala itu... bila ia terlelap?

Wanita yang namanya diagungkan Rasulullah itu, tidak pernah marah atau kesal. Sebaliknya dengan segenap cinta yang dimilikinya ia berkata di suatu subuh yang bening, "Abang sudah besar, bantu ibu ya."

Bergenang airmataku, apakah ibu sudah terlalu penat? Dalam hatiku bertekad selagi hayatku dan hayatmu masih ada, takkan ku sia-siakan harapanmu...percayalah! Ayah menggosok belakangku seperti mendengar lafaz tekad dalam hatiku.....




Ibu, setinggi-tinggi penghormatan buatmu yang mengajarku tentang kekentalan, ketabahan dan kesabaran. Semoga Allah mengutamakan mu dalam setiap urusan...amin...

6 comments:

amylia7 said...

sayu membaca entry ini... kadang kita mudah lupa kan...masa2 keberadaan kita bersama mereka, kita selalu alpa, sehinggalah kita kehilangan mereka. minta dijauhkan kami dari bersikap begini Ya Allah...

Deanz said...

ya..ketika menulis, aku pun dapat merasakannya... ... ...

ita... said...

emm... mak... ita sayangggg sangattt kat mak.....

Deanz said...

...kaulah ratu hatiku..

Anonymous said...

This is very interesting site... coppie mature Mortgage refinancing explain a Klonopin and habit forming stat imitrex dose pen Didrex prescription medication billecart salmon rose brut no commission spot currency trading Blog morgantown intersection surveillance cameras fantasy stationery for outlook express Kings wholesale flowers on line home contents insurance quotes hotel golf majorca order buy evista

Anonymous said...

You have an outstanding good and well structured site. I enjoyed browsing through it adderall xr dvd player Buy ionamin africa to thrash out un position